Merendahlah, Kelak Ditinggikan

18.51


Kita boleh tidak setuju dengan pendapat orang yang berbeda dari kita, tanpa harus mengata-ngatai bahwa dia itu munafik, kafir, fasik, dan sejenisnya. Bisa-bisa hal-hal keji itu justru akan kembali kepada diri kita sendiri, jika realitanya tidak seperti yang kita yakini. Ah, kita semua tahu hadits yang menerangkan hal tersebut.
Sungguh tidak elok merasa diri paling suci dan paling paham masalah agama.
Banyak hal dalam agama itu butuh ketelitian. Tidak bisa asal ceplas-ceplos. Perlahan dan terus menerus diselidiki apa sebenarnya maunya orang itu.
Kalau endingnya pendapat atau keyakinannya memang kontras dengan kita, maka kita boleh teguh mempertahankan pendapat atau keyakinan kita tersebut, tanpa harus mencaci dirinya. Bagaimanapun orang tersebut masih punya sisi-sisi lain yang patut diapresiasi.
Jika Baginda Nabi Shallaallaahu 'Alaihi wa Sallam saja yang maksum selalu rendah hati dan tak mencaci, bagaimana dengan kita yang masih berlumuran dosa ini?
Kalau ibadah fardhu aja masih bolong-bolong, jangan merasa paling suci. Kalau shalat subuh saja selalu telat, jangan merasa paling saleh.. Kalau...kalau...dan kalau....
Rendah hatilah di antara sesama, karena Allah akan meninggikan derajat kita di sisi-Nya. Rendah hati bukan berarti rendah diri. Kita tengok lagi, siapa sebenarnya kita ini?

Artikel Terkait

Previous
Next Post »