
Bismillah...Sering kita mendengar bahwa sesuatu yang berbeda itu sulit untuk
disatukan, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa disatukan. Atau
jangan-jangan kita juga berpendapat yang sama?? Hehehe. Entahlah.. tapi semoga
saja tidak. Kita juga Banyak mendengar bahwa perbedaan
mengantarkan kita pada keterpisahan. Seumpama minyak dan air, kedua cairan ini
tak dapat disatukan meskipun kita telah mengaduknya agar tercampur. Padahal
bisa kedua cairan itu bersatu, tetapi membutuhkan sabun untuk menyatukannya.
Ya, sabun sebagai penyambungnya. Begitu pula perbedaan yang kita miliki, rasa
memahami, menghargai dan menghormati serta bijaklah yang menjadi pemersatu
perbedaan itu. Sehingganya, keliru menurt saya jika ada yang
berasumsi bahkan sampai mengatakan bahwa bersama dan bersatu itu harus senada,
seirama, seia dan sekata. Ciyeee.... sok puitis juuu.... hehehhe... biarlah.. kata-kata seperti itu hanya salah satu cara
memebrikan stimulus kepada saya bisa melahirkan kembali perbendaharaan kosakata
yang tersimpan entah dimana sebagai salah modal saya untuk terus menegakkan
pena kecil di atas lembaran kertas putih tanpa noda. (Tanpa coretan apa-apa
maksudnya) ini bahas masalah perbedaan atau perbendaharaan?? Hmmm.. woles aja
kawan.... Jangan sampai tersandra dengan kata-kata puitis itu. Woalah... pede
bangaaat... padahal gaya tulisannya masih berantakan dan membuat orang rancuh
membacnya.
Next....
Menurut saya,
sebenarnya perbedaan tak mesti kita satukan dan kita seragamkan. Perbedaan
menciptakan harmoni kehidupan yang indah. Bukankah Allah Yang Maha Kuasa telah
menciptakan alam raya yang luas ini dengan penuh keberagaman? Bahkan perbedaan
yang Allah ciptakan ada pada satu macam, contohnya dalam spesies
tumbuh-tumbuhan, ada berbagai macam tanaman dalam satu jenis tanaman. Pohon
mangga, banyak variannya, ada mangga manalagi, mangga kweni, mangga harum
manis, dan lain-lain. Buktinya perbedaan-perbedaan tersebut tidak membuat sesuatu yang buruk kok.

Setiap orang punya seribu satu alasan untuk berbeda. Tapi setiap
orang pun juga memiliki jutaan alasan untuk bisa saling memahami setiap
perbedaan tersebut. Ketika energi positif menjadi nyawa bagi dua kutub yang
berbeda, toleransi dan saling pengertian bisa disepakati. Suatu rasa percaya
diri yang positif akan membantu kita memahami bahwa setiap perbedaan itu
bukanlah hal yang harus dihindari. Sebab kita tak mungkin bisa menghindarkan
diri dari perbedaan. Yakinkanlah diri kita bahwa perbedaan ini adalah anugerah
indah dari Allah yang harus kita sikapi dengan bijak. Sikap positif inilah yang
mestinya ditiupkan pada jiwa-jiwa yang terlibat dalam suatu perbedaan pendapat
maupun perbedaan sikap. Jangan lupa bahwa pikiran positif kita dapat
mengarahkan kita untuk berperilaku positif juga termasuk bijak dalam menghadapi
perbedaan.
Saya
pernah mendengar kata-kata indah yang isinya “sesuatu perbedaan yang ada di
antara kita adalah hal yang sesungguhnya bisa menyatukan kita, karena bersatu
tidak mesti satu warna”, setelah dicerna kembali, pernyataan itu memang benar. Lihat
saja, toh ayah dan ibu kia berbeda. Ya iyalah.. jelas
berbeda, kalau ayah laki-laki sedangkan ibu perempuan. Selesai kan? Tapi maksud
saya bukan perbedaan seperti itu. Gini, ayah dan ibu kita yang hingga kini masih terus ada
dalam kebersamaan sesungguhnya terdiri dari berbagai macam perbedaan. Entah itu dari latar belakang keluarga, suku,adat, tingkat pendidikan, dan
lain-lain, dan lai-lainnya beda agam tidak masuk ya..Namun, semua itu setelah bersatu dalam ikatan
pernikahan, mereka lalu belajar untuk bijak menyikapi perbedaan itu. To give in order to take, ya, saling memberi
dan menerima. Lihat juga pelangi, meskipun memiliki warna yang berbeda-bada toh
masih bisa bersama dan bersatu, dan setiap orang yang memandangnya pasti
merasakan keindahannya. So belajarlah memandang perbedaan sebagai sesuatu
yang positif, dan belajarlah menilai sesuatu dari sudut pandang orang lain,
sehingga ketika melihat sesuatu yang menimbulkan perbedaan diantara kita, tidak menjadikan
kita panatisme pendapat. Karena tak jarang,
perbedaan membuat kita belajar, belajar banyak hal, belajar tentang perbedaan
itu sendiri, belajar mensyukuri perbedaan itu,dan belajar untuk saling melengkapi,
saling mengisi, bukan saling berdebat dan menghujat. Sebab hal itu
tidak diajarkan dalam agama kita. Agama
hanya menganjurkan kepada kita untuk berfastabiqul khairat.
Diakui ataupun tidak, perbedaan yang telah mewarnai hiruk
pikuk perjalanan kita adalah sesuatu yang sebenarnya menyatukan kita. Apakah
harus selalu ada keseragaman warna, bendera dan nama? Tidak harus! Sebab bagi saya itu
hanyalah sebuah sarana menimbah ilmu-Nya untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi kita serta memperlebar sayap-sayap untuk melakukan
ekspansi dengan tujuan satu, yaitu menyampaikan kebaikan. keseragaman bukanlah hasil akhir dari sebuah
perbedaan. Suatu harmoni tidak mesti seragam. Coba kita saksikan sebuah
pertunjukan musik orkestra. Harmoni yang mereka ciptakan, bukanlah hasil
keseragaman, tapi hasil dari perbedaan. Perbedaan alat musik, perbedaan suara,
perbedaan peran, perbedaan aksi, perbedaan bunyi. Mereka sanggup meng-arrange
segala perbedaan menjadi harmonisasi yang indah bagi kehidupan. Kalau mereka
bisa menyatukan perbedaan-perbedaan itu menjadi suatu harmoni, kenapa kita tak
bisa? Kalau kita mau, perbedaan dalam kehidupan kita akan menjadi sesuatu yang
indah. Tak percaya? Silahkan dibuktikan sendiri.
So. Jangan
habiskan waktu kita hanya untuk memperdebatkan masalah-maslah yang kita sendiri
punya dasar akan hal itu, masih banyak urusan ummat yang harus kita selesaikan.
Oleh karenanya, silahkan dengan cara
yang kita yakini kebenarannya dan tentunya dengan kemampuan yang kita
punya. Jangan jadikan perbedaan sebagai dinding pembatas untuk menjalin ukhuwah
diantara kita. Tapi, mari jadikan
perbedaan sesama kita sebagai sebuah keniscayaan dan sebagai ajang untuk
berfastabiqulkhairat kepada-Nya. Ketika sudah berhujjah, maka tidak perlu lagi
menghujat. Dan ketika sudah berpendapat maka tidak perlu lagi berdebat. Sebab jalan
menuju surganya Allah tidak hanya satu pintu.
BERSATU walau berbeda JALUR dan BERSAMA
walau berbeda CARA.
Allahu’alam
Amir Pomalo | Pembelajar yang mencintai Kesederhanaan.