Menghilangkan Kebodohan

19.39 0
Dari banyak membaca aku jadi bisa mengerti kosakata yang Tersusun indah...
Dari mendengar. aku bisa memahami karakteristik yang ada pada seseorang...
Dari melihat aku bisa bercerita....
Dari menulis aku bisa menarasikan apa saja...
Dari memberi Nasihat aku jadi merasa sangat Hina Dihadapan-Nya :')
Dan Dari itulah aku Terus belajar, belajar dan belajar.
Karena dengan belajar bisa menghilangkan kebodohan.

Bersama Tak Mesti Satu Warna

16.18 0


Bismillah...Sering kita mendengar bahwa sesuatu yang berbeda itu sulit untuk disatukan, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa disatukan. Atau jangan-jangan kita juga berpendapat yang sama?? Hehehe. Entahlah.. tapi semoga saja tidak. Kita juga  Banyak mendengar bahwa perbedaan mengantarkan kita pada keterpisahan. Seumpama minyak dan air, kedua cairan ini tak dapat disatukan meskipun kita telah mengaduknya agar tercampur. Padahal bisa kedua cairan itu bersatu, tetapi membutuhkan sabun untuk menyatukannya. Ya, sabun sebagai penyambungnya. Begitu pula perbedaan yang kita miliki, rasa memahami, menghargai dan menghormati serta bijaklah yang menjadi pemersatu perbedaan itu. Sehingganya, keliru menurt saya jika ada yang berasumsi bahkan sampai mengatakan bahwa bersama dan bersatu itu harus senada, seirama, seia dan sekata. Ciyeee.... sok puitis juuu....  hehehhe... biarlah..  kata-kata seperti itu hanya salah satu cara memebrikan stimulus kepada saya bisa melahirkan kembali perbendaharaan kosakata yang tersimpan entah dimana sebagai salah modal saya untuk terus menegakkan pena kecil di atas lembaran kertas putih tanpa noda. (Tanpa coretan apa-apa maksudnya) ini bahas masalah perbedaan atau perbendaharaan?? Hmmm.. woles aja kawan.... Jangan sampai tersandra dengan kata-kata puitis itu. Woalah... pede bangaaat... padahal gaya tulisannya masih berantakan dan membuat orang rancuh membacnya.
Next....
Menurut saya, sebenarnya perbedaan tak mesti kita satukan dan kita seragamkan. Perbedaan menciptakan harmoni kehidupan yang indah. Bukankah Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan alam raya yang luas ini dengan penuh keberagaman? Bahkan perbedaan yang Allah ciptakan ada pada satu macam, contohnya dalam spesies tumbuh-tumbuhan, ada berbagai macam tanaman dalam satu jenis tanaman. Pohon mangga, banyak variannya, ada mangga manalagi, mangga kweni, mangga harum manis, dan lain-lain. Buktinya perbedaan-perbedaan tersebut tidak membuat sesuatu yang buruk kok.

Setiap orang punya seribu satu alasan untuk berbeda. Tapi setiap orang pun juga memiliki jutaan alasan untuk bisa saling memahami setiap perbedaan tersebut. Ketika energi positif menjadi nyawa bagi dua kutub yang berbeda, toleransi dan saling pengertian bisa disepakati. Suatu rasa percaya diri yang positif akan membantu kita memahami bahwa setiap perbedaan itu bukanlah hal yang harus dihindari. Sebab kita tak mungkin bisa menghindarkan diri dari perbedaan. Yakinkanlah diri kita bahwa perbedaan ini adalah anugerah indah dari Allah yang harus kita sikapi dengan bijak. Sikap positif inilah yang mestinya ditiupkan pada jiwa-jiwa yang terlibat dalam suatu perbedaan pendapat maupun perbedaan sikap. Jangan lupa bahwa pikiran positif kita dapat mengarahkan kita untuk berperilaku positif juga termasuk bijak dalam menghadapi perbedaan.
Saya pernah mendengar kata-kata indah yang isinya “sesuatu perbedaan yang ada di antara kita adalah hal yang sesungguhnya bisa menyatukan kita, karena bersatu tidak mesti satu warna”, setelah dicerna kembali, pernyataan itu memang benar. Lihat saja, toh ayah dan ibu kia berbeda. Ya iyalah.. jelas berbeda, kalau ayah laki-laki sedangkan ibu perempuan. Selesai kan? Tapi maksud saya bukan perbedaan seperti itu. Gini, ayah dan ibu kita yang hingga kini masih terus ada dalam kebersamaan sesungguhnya terdiri dari berbagai macam perbedaan. Entah itu dari latar belakang keluarga, suku,adat, tingkat pendidikan, dan lain-lain, dan lai-lainnya beda agam tidak masuk ya..Namun, semua itu setelah bersatu dalam ikatan pernikahan, mereka lalu belajar untuk bijak menyikapi perbedaan itu.  To give in order to take, ya, saling memberi dan menerima. Lihat juga pelangi, meskipun memiliki warna yang berbeda-bada toh masih bisa bersama dan bersatu, dan setiap orang yang memandangnya pasti merasakan keindahannya. So belajarlah memandang perbedaan sebagai sesuatu yang positif, dan belajarlah menilai sesuatu dari sudut pandang orang lain, sehingga ketika melihat sesuatu yang menimbulkan perbedaan diantara kita, tidak menjadikan kita panatisme pendapat.  Karena tak jarang, perbedaan membuat kita belajar, belajar banyak hal, belajar tentang perbedaan itu sendiri, belajar mensyukuri perbedaan itu,dan belajar untuk saling melengkapi, saling mengisi, bukan saling berdebat dan menghujat. Sebab hal itu tidak diajarkan dalam agama kita. Agama  hanya menganjurkan kepada kita untuk  berfastabiqul khairat.
Diakui ataupun tidak, perbedaan yang telah mewarnai hiruk pikuk perjalanan kita adalah sesuatu yang sebenarnya menyatukan kita. Apakah harus selalu ada keseragaman warna, bendera dan nama? Tidak harus! Sebab bagi saya itu hanyalah sebuah sarana menimbah ilmu-Nya untuk menambah pengetahuan  dan wawasan bagi kita serta  memperlebar sayap-sayap untuk melakukan ekspansi dengan tujuan satu, yaitu menyampaikan kebaikan.  keseragaman bukanlah hasil akhir dari sebuah perbedaan. Suatu harmoni tidak mesti seragam. Coba kita saksikan sebuah pertunjukan musik orkestra. Harmoni yang mereka ciptakan, bukanlah hasil keseragaman, tapi hasil dari perbedaan. Perbedaan alat musik, perbedaan suara, perbedaan peran, perbedaan aksi, perbedaan bunyi. Mereka sanggup meng-arrange segala perbedaan menjadi harmonisasi yang indah bagi kehidupan. Kalau mereka bisa menyatukan perbedaan-perbedaan itu menjadi suatu harmoni, kenapa kita tak bisa? Kalau kita mau, perbedaan dalam kehidupan kita akan menjadi sesuatu yang indah. Tak percaya? Silahkan dibuktikan sendiri.
So. Jangan habiskan waktu kita hanya untuk memperdebatkan masalah-maslah yang kita sendiri punya dasar akan hal itu, masih banyak urusan ummat yang harus kita selesaikan. Oleh karenanya, silahkan dengan cara  yang kita yakini kebenarannya dan tentunya dengan kemampuan yang kita punya. Jangan jadikan perbedaan sebagai dinding pembatas untuk menjalin ukhuwah diantara kita. Tapi, mari  jadikan perbedaan sesama kita sebagai sebuah keniscayaan dan sebagai ajang untuk berfastabiqulkhairat kepada-Nya. Ketika sudah berhujjah, maka tidak perlu lagi menghujat. Dan ketika sudah berpendapat maka tidak perlu lagi berdebat. Sebab jalan menuju surganya Allah tidak hanya satu pintu.
BERSATU walau berbeda JALUR dan BERSAMA walau berbeda CARA.
Allahu’alam

Amir Pomalo | Pembelajar yang mencintai Kesederhanaan.



Kesabaranku di Titik Nol

00.22 0

Sibuk pada buat drama yang peristiwanya  sudah basi. Tapi mungkin bagi sebagian yang lain seakan itu masih menjadi tren topik yang selalu diperbincangkan. Ya.. kurang lebih seprti itu dalam istilah pemberitaan. Lalu dalam drama itu memberikan kesan bahwa sipembuat drama itu berperan sebagai tokoh yang baik, hingga drama berakhir dialah pemenang dalam drama itu. maaf kawan. ana tidak ingin bergabung lagi dalam drama ini, sebab hal ini hanya bisa membuat ana berpenyakit hati.  Ya.. bagaimana tidak, semua kalimat yang antum lontarkan tak satu katapun yang bisa membuat ukhuwah ini menjadi erat. Semuanya hanya mengusik kenyamanan ana selama ini, bahkan sebagian dari kalimat itu hanya membuat ana tidak betah dan ingin keluar dari jalan ini. Apakah ini sikap seorang aktivis yang berlabelkan dakwah? Ataukah ini sikap yang harus ana pahami? Sungguh aneh bin ajaib seorang aktivis dakwah bersikap agresif seprti ini kepada saudranya.
Sekiranya ana berada dijalan ini niatnya hanya butuh penilaian dan ingin dipuji dari seorang makhluk seperti antum, bisa dipastikan ana sudah tidak berada di jalan ini, sebab antum telah menciptakan sebuah drama  yang membuat ana ingin menjauh dari antum semua. Tapi tidak, sesunggunya niat ana memilih dan berada di jalan ini hanyalah semata-mata mencari ridho Allah bukan ridho manusia. Karena bagi ana buat apa penilaian dari seorang makhluk jika itu hanya menjadikan ana hina dan mendatangkan murkan Allah. Bukankah penilaian Allah jauh lebih baik dan mulia dari penilaian makhluk? Bahkan tidak ada apa-apanya penilaian makhluk dengan penilaian Allah.
Sebenarnya ana sudah tidak mempermasalahkan ini lagi, bahkan  sudah menguburnya dalam-dalam dan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi karena yang  lain tidak terima itu, dengan dalih tidak merasa ada di dalamnya. Okelah, silahkan cari tim sebanyak-banyaknya untuk membuat skenario, melanjutkan  drama yang antum akan mainkan pada drama selanjutnya setelah drama ini berakhir. Silahkan buat skenarionya sebagus mungkin sehingga yang menyaksikan dan mendengarkannya tidak akan kecewa. Biarlah ana yang akan menikmati  dan menelan pahitnya serta rasa kecewa dari sebuah skenario yang antum mainkan dalam sebuah drama itu.  Sedikitpun ana tidak  protes dan marah, sebab itu hak antum melakukan apa saja yang antum mau. Yang jelas, skenario sesungguhnya semuanya masih tersimpan rapi  dan sebagian yang lain dari antum telah mendengar dan menyaksikannya.
Bagi yang menciptakan drama ini dan orang-orang yang sudah terkontaminasi serta terprofokasi dengan drama ini, pesan ana jangan pernah lari dari apa yang telah antum buat dan lakukan. Sebab semuanya akan dimintakan pertanggungjawaban  dari apa yang telah antum kerjakan. Anapun in syaa Allah akan mempertanggung jawabkan  tulisan ini. In sya Allah tidak hanya di hadapan antum tapi juga dihadapan Allah S.W.T. intinya adalah:
in ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asa’tum falahaa,
Sebagai akhir dari tulisan ini jika ada yang merasa terusik dengan tulisan dan sikap ana akhir-akhir ini, dengan segala kerendahan hati berharap maaf dari antum semua. Terima kasih yang telah ngecap ana sebagai orang yang merasa mulia di jalan ini sampai lupa daratan. terima kasih juga yang sudah memberikan over perhatian selama ini, yang telah mejadi murobbi sekaligus berperan sebagai seorang senior, kakak dan qiyadah. Mohon maaf jika hanya memberi balasan dengan torehan yang menyakitkan. Mohon maaf tidak bisa mengikuti jejakmu, tingkah lakumu dan semangatmu pergerakanmu serta kepribadianmu  yang lain di jalan dakwah ini secara keseluruhan. Ana hanya bisa memetik secuil kebaikan yang kau berikan selama melingkar bersamamu dikholaqah kita tercinta. Lebih dari itu, mohon maaf ana tidak terima.
Terakhir, jika dulu ana bersikap polos, tanpa memilih dan memilah semua yang antum sampaikan ana terima. Karena saat itu ana meyakini satu kata yang keluar dari mulut seorang kader tarbiyah adalah suntikan kebaikan buat ana. Namun kenyataannya tidak seprti itu. Sehingga sekarang bagi ana terlalu kotor untuk diputihkan kembali dengan keberadaannya antum saat ini.
Terima kasih masalah, menyapa tanpa salam | Pamit meninggalkan Torehan yang mengusik kefokusan selama ini. semoga makin dewasa.
#Semoga tidak salah menggunakan kacamata dalam menilai dan menafsirkan status ini. #Salam ukhuwah untukmu pencipta drama | Izin ya.. tidak bisa ikut dramanya lagi. Ana mau fokus atas apa yang ana rencanakan saat ini dan yang terlalaikan saat ini.

Merendahlah, Kelak Ditinggikan

18.51 0


Kita boleh tidak setuju dengan pendapat orang yang berbeda dari kita, tanpa harus mengata-ngatai bahwa dia itu munafik, kafir, fasik, dan sejenisnya. Bisa-bisa hal-hal keji itu justru akan kembali kepada diri kita sendiri, jika realitanya tidak seperti yang kita yakini. Ah, kita semua tahu hadits yang menerangkan hal tersebut.
Sungguh tidak elok merasa diri paling suci dan paling paham masalah agama.
Banyak hal dalam agama itu butuh ketelitian. Tidak bisa asal ceplas-ceplos. Perlahan dan terus menerus diselidiki apa sebenarnya maunya orang itu.
Kalau endingnya pendapat atau keyakinannya memang kontras dengan kita, maka kita boleh teguh mempertahankan pendapat atau keyakinan kita tersebut, tanpa harus mencaci dirinya. Bagaimanapun orang tersebut masih punya sisi-sisi lain yang patut diapresiasi.
Jika Baginda Nabi Shallaallaahu 'Alaihi wa Sallam saja yang maksum selalu rendah hati dan tak mencaci, bagaimana dengan kita yang masih berlumuran dosa ini?
Kalau ibadah fardhu aja masih bolong-bolong, jangan merasa paling suci. Kalau shalat subuh saja selalu telat, jangan merasa paling saleh.. Kalau...kalau...dan kalau....
Rendah hatilah di antara sesama, karena Allah akan meninggikan derajat kita di sisi-Nya. Rendah hati bukan berarti rendah diri. Kita tengok lagi, siapa sebenarnya kita ini?