Kesabaranku di Titik Nol

00.22

Sibuk pada buat drama yang peristiwanya  sudah basi. Tapi mungkin bagi sebagian yang lain seakan itu masih menjadi tren topik yang selalu diperbincangkan. Ya.. kurang lebih seprti itu dalam istilah pemberitaan. Lalu dalam drama itu memberikan kesan bahwa sipembuat drama itu berperan sebagai tokoh yang baik, hingga drama berakhir dialah pemenang dalam drama itu. maaf kawan. ana tidak ingin bergabung lagi dalam drama ini, sebab hal ini hanya bisa membuat ana berpenyakit hati.  Ya.. bagaimana tidak, semua kalimat yang antum lontarkan tak satu katapun yang bisa membuat ukhuwah ini menjadi erat. Semuanya hanya mengusik kenyamanan ana selama ini, bahkan sebagian dari kalimat itu hanya membuat ana tidak betah dan ingin keluar dari jalan ini. Apakah ini sikap seorang aktivis yang berlabelkan dakwah? Ataukah ini sikap yang harus ana pahami? Sungguh aneh bin ajaib seorang aktivis dakwah bersikap agresif seprti ini kepada saudranya.
Sekiranya ana berada dijalan ini niatnya hanya butuh penilaian dan ingin dipuji dari seorang makhluk seperti antum, bisa dipastikan ana sudah tidak berada di jalan ini, sebab antum telah menciptakan sebuah drama  yang membuat ana ingin menjauh dari antum semua. Tapi tidak, sesunggunya niat ana memilih dan berada di jalan ini hanyalah semata-mata mencari ridho Allah bukan ridho manusia. Karena bagi ana buat apa penilaian dari seorang makhluk jika itu hanya menjadikan ana hina dan mendatangkan murkan Allah. Bukankah penilaian Allah jauh lebih baik dan mulia dari penilaian makhluk? Bahkan tidak ada apa-apanya penilaian makhluk dengan penilaian Allah.
Sebenarnya ana sudah tidak mempermasalahkan ini lagi, bahkan  sudah menguburnya dalam-dalam dan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi karena yang  lain tidak terima itu, dengan dalih tidak merasa ada di dalamnya. Okelah, silahkan cari tim sebanyak-banyaknya untuk membuat skenario, melanjutkan  drama yang antum akan mainkan pada drama selanjutnya setelah drama ini berakhir. Silahkan buat skenarionya sebagus mungkin sehingga yang menyaksikan dan mendengarkannya tidak akan kecewa. Biarlah ana yang akan menikmati  dan menelan pahitnya serta rasa kecewa dari sebuah skenario yang antum mainkan dalam sebuah drama itu.  Sedikitpun ana tidak  protes dan marah, sebab itu hak antum melakukan apa saja yang antum mau. Yang jelas, skenario sesungguhnya semuanya masih tersimpan rapi  dan sebagian yang lain dari antum telah mendengar dan menyaksikannya.
Bagi yang menciptakan drama ini dan orang-orang yang sudah terkontaminasi serta terprofokasi dengan drama ini, pesan ana jangan pernah lari dari apa yang telah antum buat dan lakukan. Sebab semuanya akan dimintakan pertanggungjawaban  dari apa yang telah antum kerjakan. Anapun in syaa Allah akan mempertanggung jawabkan  tulisan ini. In sya Allah tidak hanya di hadapan antum tapi juga dihadapan Allah S.W.T. intinya adalah:
in ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asa’tum falahaa,
Sebagai akhir dari tulisan ini jika ada yang merasa terusik dengan tulisan dan sikap ana akhir-akhir ini, dengan segala kerendahan hati berharap maaf dari antum semua. Terima kasih yang telah ngecap ana sebagai orang yang merasa mulia di jalan ini sampai lupa daratan. terima kasih juga yang sudah memberikan over perhatian selama ini, yang telah mejadi murobbi sekaligus berperan sebagai seorang senior, kakak dan qiyadah. Mohon maaf jika hanya memberi balasan dengan torehan yang menyakitkan. Mohon maaf tidak bisa mengikuti jejakmu, tingkah lakumu dan semangatmu pergerakanmu serta kepribadianmu  yang lain di jalan dakwah ini secara keseluruhan. Ana hanya bisa memetik secuil kebaikan yang kau berikan selama melingkar bersamamu dikholaqah kita tercinta. Lebih dari itu, mohon maaf ana tidak terima.
Terakhir, jika dulu ana bersikap polos, tanpa memilih dan memilah semua yang antum sampaikan ana terima. Karena saat itu ana meyakini satu kata yang keluar dari mulut seorang kader tarbiyah adalah suntikan kebaikan buat ana. Namun kenyataannya tidak seprti itu. Sehingga sekarang bagi ana terlalu kotor untuk diputihkan kembali dengan keberadaannya antum saat ini.
Terima kasih masalah, menyapa tanpa salam | Pamit meninggalkan Torehan yang mengusik kefokusan selama ini. semoga makin dewasa.
#Semoga tidak salah menggunakan kacamata dalam menilai dan menafsirkan status ini. #Salam ukhuwah untukmu pencipta drama | Izin ya.. tidak bisa ikut dramanya lagi. Ana mau fokus atas apa yang ana rencanakan saat ini dan yang terlalaikan saat ini.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »