Sibuk pada buat drama yang peristiwanya sudah basi. Tapi mungkin bagi sebagian yang lain seakan itu masih menjadi tren topik yang selalu diperbincangkan. Ya.. kurang lebih seprti itu dalam istilah pemberitaan. Lalu dalam drama itu memberikan kesan bahwa sipembuat drama itu berperan sebagai tokoh yang baik, hingga drama berakhir dialah pemenang dalam drama itu. maaf kawan. ana tidak ingin bergabung lagi dalam drama ini, sebab hal ini hanya bisa membuat ana berpenyakit hati. Ya.. bagaimana tidak, semua kalimat yang antum lontarkan tak satu katapun yang bisa membuat ukhuwah ini menjadi erat. Semuanya hanya mengusik kenyamanan ana selama ini, bahkan sebagian dari kalimat itu hanya membuat ana tidak betah dan ingin keluar dari jalan ini. Apakah ini sikap seorang aktivis yang berlabelkan dakwah? Ataukah ini sikap yang harus ana pahami? Sungguh aneh bin ajaib seorang aktivis dakwah bersikap agresif seprti ini kepada saudranya.
Sekiranya ana berada dijalan ini niatnya hanya butuh
penilaian dan ingin dipuji dari seorang makhluk seperti antum, bisa dipastikan ana
sudah tidak berada di jalan ini, sebab antum telah menciptakan sebuah drama yang membuat ana ingin menjauh dari antum
semua. Tapi tidak, sesunggunya niat ana memilih dan berada di jalan ini hanyalah
semata-mata mencari ridho Allah bukan ridho manusia. Karena bagi ana buat apa
penilaian dari seorang makhluk jika itu hanya menjadikan ana hina dan mendatangkan
murkan Allah. Bukankah penilaian Allah jauh lebih baik dan mulia dari penilaian makhluk? Bahkan tidak ada apa-apanya penilaian makhluk dengan penilaian Allah.
Sebenarnya ana
sudah tidak mempermasalahkan ini lagi, bahkan sudah menguburnya dalam-dalam dan menganggap
tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi karena yang lain tidak terima itu, dengan dalih tidak
merasa ada di dalamnya. Okelah, silahkan cari tim sebanyak-banyaknya untuk
membuat skenario, melanjutkan drama yang
antum akan mainkan pada drama selanjutnya setelah drama ini berakhir. Silahkan buat
skenarionya sebagus mungkin sehingga yang menyaksikan dan mendengarkannya tidak
akan kecewa. Biarlah ana yang akan menikmati dan menelan pahitnya serta rasa kecewa dari
sebuah skenario yang antum mainkan dalam sebuah drama itu. Sedikitpun ana tidak protes dan marah, sebab itu hak antum
melakukan apa saja yang antum mau. Yang jelas, skenario sesungguhnya semuanya masih
tersimpan rapi dan sebagian yang lain
dari antum telah mendengar dan menyaksikannya.
Bagi yang menciptakan
drama ini dan orang-orang yang sudah terkontaminasi serta terprofokasi dengan
drama ini, pesan ana jangan pernah lari dari apa yang telah antum buat dan
lakukan. Sebab semuanya akan dimintakan pertanggungjawaban dari apa yang telah antum kerjakan. Anapun in
syaa Allah akan mempertanggung jawabkan
tulisan ini. In sya Allah tidak hanya di hadapan antum tapi juga dihadapan
Allah S.W.T. intinya adalah:
in ahsantum ahsantum li anfusikum
wa in asa’tum falahaa,
Sebagai
akhir dari tulisan ini jika ada yang merasa terusik dengan tulisan dan sikap ana
akhir-akhir ini, dengan segala kerendahan hati berharap maaf dari antum semua.
Terima kasih yang telah ngecap ana sebagai orang yang merasa mulia di jalan ini
sampai lupa daratan. terima kasih juga yang sudah memberikan over perhatian
selama ini, yang telah mejadi murobbi sekaligus berperan sebagai seorang
senior, kakak dan qiyadah. Mohon maaf jika hanya memberi balasan dengan torehan
yang menyakitkan. Mohon maaf tidak bisa mengikuti jejakmu, tingkah lakumu dan
semangatmu pergerakanmu serta kepribadianmu yang lain di jalan dakwah ini secara
keseluruhan. Ana hanya bisa memetik secuil kebaikan yang kau berikan selama
melingkar bersamamu dikholaqah kita tercinta. Lebih dari itu, mohon maaf ana
tidak terima.
Terakhir,
jika dulu ana bersikap polos, tanpa memilih dan memilah semua yang antum
sampaikan ana terima. Karena saat itu ana meyakini satu kata yang keluar dari
mulut seorang kader tarbiyah adalah suntikan kebaikan buat ana. Namun kenyataannya
tidak seprti itu. Sehingga sekarang bagi ana terlalu kotor untuk diputihkan
kembali dengan keberadaannya antum saat ini.
Terima kasih masalah, menyapa
tanpa salam | Pamit meninggalkan Torehan yang mengusik kefokusan selama ini. semoga
makin dewasa.
#Semoga tidak salah menggunakan
kacamata dalam menilai dan menafsirkan status ini. #Salam ukhuwah untukmu pencipta drama |
Izin ya.. tidak bisa ikut dramanya lagi. Ana mau fokus atas apa yang ana
rencanakan saat ini dan yang terlalaikan saat ini.


EmoticonEmoticon