Bersama Tak Mesti Satu Warna

16.18


Bismillah...Sering kita mendengar bahwa sesuatu yang berbeda itu sulit untuk disatukan, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa disatukan. Atau jangan-jangan kita juga berpendapat yang sama?? Hehehe. Entahlah.. tapi semoga saja tidak. Kita juga  Banyak mendengar bahwa perbedaan mengantarkan kita pada keterpisahan. Seumpama minyak dan air, kedua cairan ini tak dapat disatukan meskipun kita telah mengaduknya agar tercampur. Padahal bisa kedua cairan itu bersatu, tetapi membutuhkan sabun untuk menyatukannya. Ya, sabun sebagai penyambungnya. Begitu pula perbedaan yang kita miliki, rasa memahami, menghargai dan menghormati serta bijaklah yang menjadi pemersatu perbedaan itu. Sehingganya, keliru menurt saya jika ada yang berasumsi bahkan sampai mengatakan bahwa bersama dan bersatu itu harus senada, seirama, seia dan sekata. Ciyeee.... sok puitis juuu....  hehehhe... biarlah..  kata-kata seperti itu hanya salah satu cara memebrikan stimulus kepada saya bisa melahirkan kembali perbendaharaan kosakata yang tersimpan entah dimana sebagai salah modal saya untuk terus menegakkan pena kecil di atas lembaran kertas putih tanpa noda. (Tanpa coretan apa-apa maksudnya) ini bahas masalah perbedaan atau perbendaharaan?? Hmmm.. woles aja kawan.... Jangan sampai tersandra dengan kata-kata puitis itu. Woalah... pede bangaaat... padahal gaya tulisannya masih berantakan dan membuat orang rancuh membacnya.
Next....
Menurut saya, sebenarnya perbedaan tak mesti kita satukan dan kita seragamkan. Perbedaan menciptakan harmoni kehidupan yang indah. Bukankah Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan alam raya yang luas ini dengan penuh keberagaman? Bahkan perbedaan yang Allah ciptakan ada pada satu macam, contohnya dalam spesies tumbuh-tumbuhan, ada berbagai macam tanaman dalam satu jenis tanaman. Pohon mangga, banyak variannya, ada mangga manalagi, mangga kweni, mangga harum manis, dan lain-lain. Buktinya perbedaan-perbedaan tersebut tidak membuat sesuatu yang buruk kok.

Setiap orang punya seribu satu alasan untuk berbeda. Tapi setiap orang pun juga memiliki jutaan alasan untuk bisa saling memahami setiap perbedaan tersebut. Ketika energi positif menjadi nyawa bagi dua kutub yang berbeda, toleransi dan saling pengertian bisa disepakati. Suatu rasa percaya diri yang positif akan membantu kita memahami bahwa setiap perbedaan itu bukanlah hal yang harus dihindari. Sebab kita tak mungkin bisa menghindarkan diri dari perbedaan. Yakinkanlah diri kita bahwa perbedaan ini adalah anugerah indah dari Allah yang harus kita sikapi dengan bijak. Sikap positif inilah yang mestinya ditiupkan pada jiwa-jiwa yang terlibat dalam suatu perbedaan pendapat maupun perbedaan sikap. Jangan lupa bahwa pikiran positif kita dapat mengarahkan kita untuk berperilaku positif juga termasuk bijak dalam menghadapi perbedaan.
Saya pernah mendengar kata-kata indah yang isinya “sesuatu perbedaan yang ada di antara kita adalah hal yang sesungguhnya bisa menyatukan kita, karena bersatu tidak mesti satu warna”, setelah dicerna kembali, pernyataan itu memang benar. Lihat saja, toh ayah dan ibu kia berbeda. Ya iyalah.. jelas berbeda, kalau ayah laki-laki sedangkan ibu perempuan. Selesai kan? Tapi maksud saya bukan perbedaan seperti itu. Gini, ayah dan ibu kita yang hingga kini masih terus ada dalam kebersamaan sesungguhnya terdiri dari berbagai macam perbedaan. Entah itu dari latar belakang keluarga, suku,adat, tingkat pendidikan, dan lain-lain, dan lai-lainnya beda agam tidak masuk ya..Namun, semua itu setelah bersatu dalam ikatan pernikahan, mereka lalu belajar untuk bijak menyikapi perbedaan itu.  To give in order to take, ya, saling memberi dan menerima. Lihat juga pelangi, meskipun memiliki warna yang berbeda-bada toh masih bisa bersama dan bersatu, dan setiap orang yang memandangnya pasti merasakan keindahannya. So belajarlah memandang perbedaan sebagai sesuatu yang positif, dan belajarlah menilai sesuatu dari sudut pandang orang lain, sehingga ketika melihat sesuatu yang menimbulkan perbedaan diantara kita, tidak menjadikan kita panatisme pendapat.  Karena tak jarang, perbedaan membuat kita belajar, belajar banyak hal, belajar tentang perbedaan itu sendiri, belajar mensyukuri perbedaan itu,dan belajar untuk saling melengkapi, saling mengisi, bukan saling berdebat dan menghujat. Sebab hal itu tidak diajarkan dalam agama kita. Agama  hanya menganjurkan kepada kita untuk  berfastabiqul khairat.
Diakui ataupun tidak, perbedaan yang telah mewarnai hiruk pikuk perjalanan kita adalah sesuatu yang sebenarnya menyatukan kita. Apakah harus selalu ada keseragaman warna, bendera dan nama? Tidak harus! Sebab bagi saya itu hanyalah sebuah sarana menimbah ilmu-Nya untuk menambah pengetahuan  dan wawasan bagi kita serta  memperlebar sayap-sayap untuk melakukan ekspansi dengan tujuan satu, yaitu menyampaikan kebaikan.  keseragaman bukanlah hasil akhir dari sebuah perbedaan. Suatu harmoni tidak mesti seragam. Coba kita saksikan sebuah pertunjukan musik orkestra. Harmoni yang mereka ciptakan, bukanlah hasil keseragaman, tapi hasil dari perbedaan. Perbedaan alat musik, perbedaan suara, perbedaan peran, perbedaan aksi, perbedaan bunyi. Mereka sanggup meng-arrange segala perbedaan menjadi harmonisasi yang indah bagi kehidupan. Kalau mereka bisa menyatukan perbedaan-perbedaan itu menjadi suatu harmoni, kenapa kita tak bisa? Kalau kita mau, perbedaan dalam kehidupan kita akan menjadi sesuatu yang indah. Tak percaya? Silahkan dibuktikan sendiri.
So. Jangan habiskan waktu kita hanya untuk memperdebatkan masalah-maslah yang kita sendiri punya dasar akan hal itu, masih banyak urusan ummat yang harus kita selesaikan. Oleh karenanya, silahkan dengan cara  yang kita yakini kebenarannya dan tentunya dengan kemampuan yang kita punya. Jangan jadikan perbedaan sebagai dinding pembatas untuk menjalin ukhuwah diantara kita. Tapi, mari  jadikan perbedaan sesama kita sebagai sebuah keniscayaan dan sebagai ajang untuk berfastabiqulkhairat kepada-Nya. Ketika sudah berhujjah, maka tidak perlu lagi menghujat. Dan ketika sudah berpendapat maka tidak perlu lagi berdebat. Sebab jalan menuju surganya Allah tidak hanya satu pintu.
BERSATU walau berbeda JALUR dan BERSAMA walau berbeda CARA.
Allahu’alam

Amir Pomalo | Pembelajar yang mencintai Kesederhanaan.



Artikel Terkait

Previous
Next Post »