Saudaraku, menjawab pertanyaan yang sering kali mampir diitelingakku.tentang kapan aku siap menikah, kriteria apa saja dan siapakah dia yang akan aku tunjuk ketika ada yang
bertanya "mana pasangan antum?"..
Saudaraku..
ketika aku putuskan untuk menikahi seseorang, aku harus yakin bahwa dialah orang yang paling ku inginkan untuk menghabiskan hidup bersama-sama. Membesarkan anak,melewati masa-masa sulit,membaca buku berdua,teman untuk mengkaji Al-Qur'an dan Al-Hadist,berbagi mimpi dan cita-cita berdua,dan semoga dia adalah seorang pasangan yang bisa mengantarkan ke syurga..
Dia adalah seseorang yang paling aku inginkan ketika dunia tak lagi ramah menyapa, karena terlepas dari orang tua,dengan dia inilah kelak aku akan menjadi imam yang siap membimbingnya, insyaa Allah. Namun untuk saat ini kesiapan dan ilmu yang aku miliki belum cukup untuk membingkainya. Sebab menikah bukan sekadar ajang coba-coba, tidak hanya belajar dari orang lain yang sudah melaksanakannya. Tapi menikah perlu kesiapan yang matang dan mapan dari diri kita sendiri, ya.. matang dan mapan tidak hanya dilihat dari segi materi saja, akan tetapi lebih dari itu semua. Mungkin prinsipku ini jauh berbeda dengan yang lain, tapi entahlah... yang jelas bagiku masing-masing orang punya prinsip yang berbeda tentang hal ini, dan tentunya setiap prinsip yang dianut oleh setiap individu mutlak dimiliki oleh individu itu sendiri dan tidak bisa diganggu gugat oleh pihak manapun selama prinsip itu masih berjalan sesuai batas qoridor syar’i. Tentang hal ini, secara lisan aku tidak bisa memberikan komentar seperti ini atas apa yang kalian lontarkan.
Saudaraku..
ketika aku putuskan untuk menikahi seseorang, aku harus yakin bahwa dialah orang yang paling ku inginkan untuk menghabiskan hidup bersama-sama. Membesarkan anak,melewati masa-masa sulit,membaca buku berdua,teman untuk mengkaji Al-Qur'an dan Al-Hadist,berbagi mimpi dan cita-cita berdua,dan semoga dia adalah seorang pasangan yang bisa mengantarkan ke syurga..
Dia adalah seseorang yang paling aku inginkan ketika dunia tak lagi ramah menyapa, karena terlepas dari orang tua,dengan dia inilah kelak aku akan menjadi imam yang siap membimbingnya, insyaa Allah. Namun untuk saat ini kesiapan dan ilmu yang aku miliki belum cukup untuk membingkainya. Sebab menikah bukan sekadar ajang coba-coba, tidak hanya belajar dari orang lain yang sudah melaksanakannya. Tapi menikah perlu kesiapan yang matang dan mapan dari diri kita sendiri, ya.. matang dan mapan tidak hanya dilihat dari segi materi saja, akan tetapi lebih dari itu semua. Mungkin prinsipku ini jauh berbeda dengan yang lain, tapi entahlah... yang jelas bagiku masing-masing orang punya prinsip yang berbeda tentang hal ini, dan tentunya setiap prinsip yang dianut oleh setiap individu mutlak dimiliki oleh individu itu sendiri dan tidak bisa diganggu gugat oleh pihak manapun selama prinsip itu masih berjalan sesuai batas qoridor syar’i. Tentang hal ini, secara lisan aku tidak bisa memberikan komentar seperti ini atas apa yang kalian lontarkan.
Saudaraku..
Saat kita memutuskan untuk menikah,maka pilihlah hati-hati,dengan
istikharah dan pertimbangan yang matang. Jangan karena khawatir nggak dapat
jodoh,nggak enak omongan orang,atau dikejar target menikah. Lalu asal saja,yang
penting status berubah. Tidak,karena hidup kita selanjutnya,masa depan
anak-anak kita kelak sangat tergantung dari pilihan yang akan kita buat.
Pilihlah hanya karena Allah..
"Choose for your Love,then Love your Choice"
Dan ketika pertanyaan "kapan nikah?" mampir lagi ditelinga kita, jangan biarkan ia mengusik perasaan,melainkan jadikan ia cambuk untuk memperbaiki diri,lagi dan lagi. Karena Allah memasangkan seseorang sesuai dengan kadar keimanannya.
"Keep positive-thinking and husnudzon to Allah".
Karena Dia adalah sebagaimana persangkaan hambaNya kepadaNya..
Pilihlah hanya karena Allah..
"Choose for your Love,then Love your Choice"
Dan ketika pertanyaan "kapan nikah?" mampir lagi ditelinga kita, jangan biarkan ia mengusik perasaan,melainkan jadikan ia cambuk untuk memperbaiki diri,lagi dan lagi. Karena Allah memasangkan seseorang sesuai dengan kadar keimanannya.
"Keep positive-thinking and husnudzon to Allah".
Karena Dia adalah sebagaimana persangkaan hambaNya kepadaNya..
#Terima kasih telah mengkampanyekan hal ini.


EmoticonEmoticon